Strategi Trading Dengan Indikator Accelerator/Decelerator

Halo teman-teman semua, kali ini saya akan membahas strategi trading dengan menggunakan bantuan indikator AC atau Accelerator/Decelerator. Indikator AC ini dikembangkan oleh Bill William untuk mengukur daya penggerak dan keseimbangan antara daya penggerak dan akselerasi, pada postingan sebelumnya mengenai Indikator Accelerator/Decelerator Oscillator (AC) sudah dibahas mengenai indikator ini dan pada artikel yg ini saya akan memberikan contoh trading dengan menggunakan indikator ini.

Sebelumnya anda harus tahu basic rule dari indikator ini.

Sinyal Buy
Ketika 2 bar berwarna HIJAU berada di atas nought line (garis 0), atau
Ketika 3 bar bewarna HIJAU berada di bawah nought line (garis 0).

Dan utnuk sinyal Sell
Ketika 2 bar berwarna MERAH berada di bawah nought line (garis 0), atau
Ketika 3 bar berwarna MERAH berada di atas nought line (garis 0).

Gambar di atas adalah basic rule dari indikator AC. Rule basic ini harus kita gabungkan dengan konfirmasi dari price action dengan melihat market structure dan pola-pola candlestick untuk mengurangi false signal.

Tahap pertama: Apakah market sedang dalam keadaan trending atau konsolidasi
Ini merupakan tahap penting, karena bila market sedang berada pada saat trending, anda bisa meggunakan indikator AC agar bisa entry sesuai arah. Bila market sedang konsolidasi, ditandai dengan high yg sejajar dan low yg sejajar, anda bisa entry reversal pada level-level support dan resistance.

Tahap kedua: Tentukan Support dan Resistance
Ini merupakan lanjutan tahap pertama, setelah anda melihat kondisi market, anda harus menggambar garis support dan resistance, ini nantinya akan menjadi gambaran di mana harga kemungkinan akan balik arah atau pun breakout. Level-level ini juga akan membantu untuk menempatkan stoploss.
Gambar di atas adalah pair GBPUSD yang sedang dalam kondisi ranging/konsolidasi. Garis gorizontal digambar berdasarkan titik-titik pembalikan, support dan resistance.

Tahap ketiga: Tunggu hingga indikator AC memberikan sinyal.
Sesuai dengan rule indikator AC di atas kita harus menunggu sampai indikator memberikan clue awal untuk entry.
Setelah kita menunggu, akhirnya AC memberikan beberapa sinyal, terlihat pada gambar di atas, AC memberikan sinyal BUY (3 bar hijau di bawah 0) yang merupakan false signal. Dan sinyal berikutnya berupa sinyal SELL (2 bar merah di bawah 0). Kenapa 3 bar hijau di bawah 0 tersebut berupa false signal padahal itu adalah rule indikatornya? Anda perhatikan bagaimana reaksi candlestick pada saat 3 bar hijau dari indikator AC terbentuk, candlestick nya sebagian besar doji dan bodynya sangat kecil sekali, shadownya pun juga pendek, artinya sedang dalam keadaan indecision, mau naik pun susah, turun pun susah, apalagi tepat berada di dekat zona support. Sinyal berikutnya adalah sinyal SELL yang merupakan true signal karena ada candlestick yang breakout zona support dan body candlestick yang besar, candlestick tersebut juga merupakan pola bearish engulfing, karena melahap seluruh candlestick sebelumnya.

Sell stop bisa diletakan di harga low candle yg tepat dengan bar 2 berwarna merah, dengan stop loss di resistance terdekat. Pada gambar di atas, entrynya adalah SELL STOP di 1.29924 dan SL di 1.31139. TPnya bisa 1:1 (menggunakan risk reward ratio) untuk TP 1 atau TP di support terdekat. SL pada entry di atas adalah berjarak 1200 pippettes (120 pips). Sekarang mari kita geser chartnya untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.

Tepat sesuai prediksi, tapi ternyata TP 1 tidak sampai, dan kenapa exit duluan? Karena terbentuk 2 bar berwarna hijau di atas garis 0 pada indikator AC dan melihat reaksi candlestick juga mulai choppy dan kembali masuk tahap ranging/konsolidasi. Dengan exit lebih awal kita sudah mendapatkan profit sekitar 90 pips. Dan lihat apa yang terjadi apabila kita tidak exit pada gambar di bawah ini.
Bila kita tidak exit tetapi menunggu sampai hit TP 1 yang berjarak 120 pips tadi, maka kita batal profit karena harga balik lagi ke harga entry, dan apabila anda cutloss maka anda hanya akan breakeven point atau loss di spread dan komisi atau loss beberapa pips. Setelah memasuki konsolidasi, market breakout dengan full power ditandai dengan formasi bullish candlestick, menandakan buyer mulai masuk. Itulah penting untuk exit bahkan sebelum mengenai TP jika sudah ada clue untuk exit ya exit saja, karena kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Mending amankan profit yang sudah ada.

Contoh lainnya adalah pada chart berikut ini.
 Chart di atas adalah DJIA (Dow Jones Industrial Average) pada time frame H1 terlihat mengalami up trend pada beberapa hari terakhir dan memasuki ranging/konsolidasi seperti pada kotak yg digambar. Kita zoom untuk melihat lebih dekat.
Amati pola candle yang terbentuk di dalam zona konsolidasi tersebut, ada candlestick kangaroo tail, dan ada pola candle bullish harami cross. (Kangaroo Tail merupakan pola candlestick seperti yang dijelaskan pada buku Naked Forex, yang ditulis oleh Walter Peter, Ph.D). Kedua pola candlestick ini merupakan clue bahwa harga akan bergerak naik, selanjutnya indikator AC juga memberikan konfirmasi berupa 2 bar berwarna hijau di atas garis 0. Dan entry BUY STOP kita letakan di harga 26.240 dengan SL di support terdekat yaitu 26147. Dan lihat harga bergerak hampir 200 pips hanya dalam 1 candle.

Ketika harga sudah bergerak jauh dari harga entry, anda bisa menggeser SL ke harga entry untuk BEP atau membuat risk menjadi 0. Karena jika ternyata harga berbalik ke harga entry, anda hanya rugi spread dan komisi saja (jika ada komisi).

Jika sudah terbentuk lebih dari 3 bar berwarna merah maupun hijau, sebaiknya jangan melakukan entry, karena sudah terlambat untuk entry, kalau anda entry kemungkinan besar akan terkena drawdown dan floating minus yang besar.

Ini lah mengapa pentingnya untuk memahami struktur market dan pola-pola candlestick sebelum melihat indikator yang lain. Indikator hanya alat bantu, dari formasi candlestick saja sudah memberikan clue untuk exit lebih awal. Kita jangan mengambil sinyal dari indikator tanpa adanya konfirmasi dari price action. Misalnya indikator memberikan sinyal buy, tetapi harga saja malah gagal membentuk higher high, berarti itu adalah false signal, dan bisa saja harga masih akan turun.

Demikian lah artikel mengenai strategi trading dengan menggunakan indikator AC. Artikel ini hanyak untuk tujuan entertainment saja, tidak ada rekomendasi finansial apapun dalam artikel ini, semua keputusan ada di tangan anda sendiri dan resiko juga berada di tangan anda, yang penting anda menerapkan money management yang benar agar tidak kehilangan seluruh modal anda.

0 Response to "Strategi Trading Dengan Indikator Accelerator/Decelerator"

Post a Comment

Disclaimer: Sebagian besar artikel trading merupakan pendapat pribadi penulis, walaupun penulis mencantumkan sumber artikel, harap gunakan akun demo terlebih dahulu untuk mencoba strategi trading.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel