Strategi Trading dengan Indikator ADX dan WPR

Halo rekan trader semuanya, kali ini saya akan membahas sebuah strategi trading berdasarkan indikator ADX dan CCI. Sebelumnya saya menekankan selalu uji coba sebuah teknik atau strategi dengan menggunakan akun demo terlebih dahulu atau mencobanya di kontes demo sebelum trading dengan menggunakan uang asli.

Oke, seperti pada postingan Indikator Average Directional Movement Index (ADX) sebelumnya telah dijelaskan bahwa ADX adalah indikator yang mengukur kekuatan trend, dan garis ADX tidak memberikan arah untuk entry, tetapi +DI dan -DI memberikan sinyal untuk entry. Tetapi +DI dan -DI crossing ini menurut saya cukup lagging, krna kita akan terlambat entry jika menunggu +DI dan -DI tersebut crossing satu sama lain. Oleh karena itu, saya menambahkan indikator WPR (Williams' Percent Range) sebagai indikator momentum yang memberikan sinyal kapan untuk entry.

Williams' Percent Range adalah oscillator yang diciptakan oleh Larry William yang dapat menentukan market overbough/oversold. Williams's %R sangat mirip sekali dengan Stochastic Oscillator. Perbedaannya skala %R adalah negatif, sedangkan Stochastic berskala positif dan punya internal smoothing (%D line).

Selanjutnya Williams's Percent Range akan saya singkat menjadi WPR. Skala WPR ini adalah mulai dari 0 sampai -100. 0 menandakan market sedang overbought, dan -100 merupakan tanda sedang oversold. Level-level overbough/oversold yang lebih umu digunakan adalah -20 dan -80. Ketika WPR masuk ke area 0 sampai -20 maka market dalam kondisi overbought. Dan ketika WPR berada di area -80 sampai -100 sedang berada dalam kondisi oversold.

Overbought dan oversold (jenuh beli dan jenuh jual) bukan tanda bahwa market akan langsung balik arah, karena ketika berada dalam kondisi overbought, maka orang-orang pada saat itu akan rame-rame membeli (buying) sehingga harga akan terdorong naik, dan overbought bisa terjadi dalam waktu yang lama. Sama pula halnya dengan oversold, jika pada saat oversold banyak orang yang melakukan selling, maka oversold bisa terjadi dalam waktu yang lama. Jadi ketika WPR sudah OB atau OS market tidak akan instan balik arah.

Untuk itu kenapa pentingnya indikator ADX dan juga kemampuan untuk melihat kondisi market apakah sedang sideway atau trending. Pembacaan ADX yang rendah menandakan market sedang non trending/sideways dan ADX yg tinggi menandakan market telah "exhausted" tanda trend akan reversal atau koreksi atau juga akan sideways.

Indikator yang digunakan.
1. ADX dengan periode 14. +DI dan -DI tidak digunakan (diberi warna none). Lalu berikan level 25.
2. Tambahkan indikator WPR. Insert > Indicator > Oscillator > Williams' Percent Range. Setting default.
 Timeframe: 1 ham, 4 jam, daily.

Strategi ADX dan WPR


Pertama, anda menentukan market sedang berada pada kondisi sideway dan ADX masih berada di bawah 25. Lalu gambar kotak untuk area konsolidasi tersebut.

Hati-hati dengan fakeout, seperti pada gambar di atas ada 2 candlestick yang shadownya menembus ke bawah kotak, tetapi closing nya masih tetap berada di dalam kotak tersebut. Kalau di buku Naked Forex, saran ketika trading breakout adalah menunggu last-kiss, tapi tanpa last-kiss pun bisa kalau didukung dengan pola-pola candlestick.

Gambar di atas juga menunjukkan WPR mulai masuk area -20 - 0 menandakan kondisi overbought. Bila diperhatikan ada 4 candle bullish berturut-turut yang reversal dari bagian bawah kotak hingga candle ke-4 breakout dan close di luar atas kotak.

Anda bisa entry buy ketika ADX mulai naik di atas 25.
SL nya adalah bagian tengah kotak zona akumulasi/sideways.
Anda bisa exit ketika candlestick mulai mengecil bodynya pertanda akan kembali sideways atau balik arah, atau anda juga bisa exit ketika ADX kembali turun ke level 25.

Pada gambar di atas, terlihat GOLD kembali konsolidasi setelah trending beberapa hari.
Kita kembali menggambar kotak untuk menentukan batas-batas support dan resistance zona konsolidasi. Terlihat ada beberapa fake out yang terjadi. Lagi kalau menurut buku Naked Forex adalah menunggu last-kiss ketika terjadi breakout. Last-kiss yaitu ada candlestick yang breakout (clossing di luar kotak) dan harga masuk kembali ke kotak tersebut lalu balik melanjutkan arah sesuai arah break-outnya. Last-kiss trade didesign untuk menghindari fakeout. Tetapi dengan memasang pending order Buy Stop pada contoh seperti gambar tersebut, anda juga bisa menghindari fakeout.
Pada gambar di atas terlihat ada candlestick yang breakotu di bagian atas kotak, saya memasang pending order pada closing candle tersebut ketika harga berbalik turun masuk ke kotak lagi. Pending order buy stop yang disarankan adalah pada high candlestick yang breakout tersebut. Lalu pada tanggal 19 juni 2019, pending order buy stop saya aktif, dan SL ditengah kotak tidak kena, lalu GOLD naik sekitar $22, dan saya menggeser SL ke SL+ (trailing stop untuk mengamankan profit). Pada saat pending order aktif, anda lihat juga ADX berada di atas 25 dan WPR pun berada di atas -20.

Jadi itulah pentingnya untuk mengidentifikasi kondisi market terlebih dahulu dan menggunakan pending order pada shadow atau close candlestick yang breakout untuk menghindari fakeout, atau menunggu sampai terjadi last-kiss atau retest pada zona konsolidasi baru anda entry sesuai arah dan dikonfirmasi oleh kedua indikator tadi. Jika anda entry langsung pada saat candle breakout tersebut, kemungkinan SL anda akan kena duluan karena ternyata setelah breakout ternyata turun untuk retrace bahkan turunnya sampai kebagian tengah kotak, memasang SL di tengah kotak ketika instant entry breakout, tentu SL anda akan kena duluan. Jika pending order buy stop di letakan di shadow atau close candle yang breakout tadi, order anda tidak akan aktif sampai retest terjadi dan harga berbalik naik lagi, dan SL pun tidak akan kena.

Pending order buy stop dan sell stop penting digunakan terutama bagi anda yang mengadopsi breakout trading. Karena banyaknya fakeout (breakout yang hanya shadownya saja) atau breakout closing di luar kotak dan balik lagi masuk ke dalam kotak. Fakeout ini tidak hanya terjadi di zona sideways saja, bahkan pada saat trending pun jika anda menarik garis trend, anda dapat melihat berapa banyak fakeout yang terjadi, harga mencoba break garis trend, tetapi hanya shadownya saja, dan closing masih di atas trendline dan masih bergerak sesuai arah trend sebelumnya seperti gambar di bawah ini.

Demikianlah artike mengenai strategi trading dengan menggunakan ADX dan WPR juga dibantu dengan market structure seperti kondisi market trending, dan sideways. Teknik ini harus dikonfirmasikan juga dengan melihat bentuk-bentuk candlestick, terutama pada saat terjadinya breakout. Karena bentuk candlestick mencerminkan psikologi pelaku pasar pada saat tersebut.

Saya sangat menyarankan untuk mencoba teknik ini pada demo akun terlebih dahulu, atau mencobanya pada kontes trading demo akun. Saya tidak bertanggung jawab atas kehilangan modal anda. Artikel ini hanya bersifat entertaintment saja, semua analisa didasarkan pada data historis. Tidak ada rekomendasi finansial apapun pada artikel ini. Anda dapat menderita kerugian yang besar pada real akun jika tidak trading dengan money management yang benar.

0 Response to "Strategi Trading dengan Indikator ADX dan WPR"

Post a Comment

Disclaimer: Sebagian besar artikel trading merupakan pendapat pribadi penulis, walaupun penulis mencantumkan sumber artikel, harap gunakan akun demo terlebih dahulu untuk mencoba strategi trading.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel